Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo Teras Dramaga

Bersama Membangun Kabupaten Bogor

Berbasis Kearifan Lokal

4 Tips Sehat

9 Tips Sehat

Pesan Jokowi untuk Tahun 2019

Dramaga (TerasDramaga) - Bersatu Berjuang Menang, #PolitikTanpaMahar
Sapto Satrio Mulyo #CalegTanpaMahar DPR RI dari PARTAI NasDem

#1BuktiBukan2Janji

Pesan Jokowi untuk 2019

Bersatu Berjuang Menang #PolitikTanpaMahar

Jaenal Abidin: 2019 Partai NasDem Tiga Besar

Dramaga (TerasDramaga)-Jaenal Abidin, Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan Dramaga, Bogor optimis, pada Pemilu Serentak 2019, partainya dapat meraih suara yang cukup signifikan. Dirinya optimis, suara yang diraihnya masuk dalam kelompok 3 besar.

Bukan tanpa alasan, "saya optimis. Masyarakat Bogor, khususnya di Kecamatan Dramaga sudah sangat cerdas. Mereka dapat menilai, partai mana yang bersih dan punya komitmen membangun Bogor" 

Sebagai Ketua DPC, dirinya membangun koordinasi, integrasi, dan sinergi dengan DPD dan 10 DPRt yang ada di wilayahnya. Selain itu, dirinya memfasilitasi seluruh Caleg DPRD Provinsi/Kabupaten dan DPR RI. Antara lain, Agus Pranoto, Caleg DPRD Provonsi Nomor Urut 4 dan Sapto Satrio Mulyo, Caleg DPR RI Nomor Urut 8.   

"Saya sangat bangga bergabung dengan NasDem. Sosialisasi yang kami lakukan, mendapat sambutan yang sangat baik" paparnya. Ada 2 hal yang membuat masyarakat mengapresiasi NasDem.  

Ketua Umum kami, Pak Surya Paloh di kenal sebagai sosok yang tegas, dan tidak punya ambisi jadi Presiden atau Wakil Presiden.

Partai NasDem, satu satunya partai yang menyatakan Partai Tanpa Mahar. Dan secara nyata, konsisten di lakukan. Baik "Tanpa Mahar" dalam memberikan dukungan kepada Capres/Cawapres, Calon Kepala Daerah  dan seluruh Caleg. Para Caleg.

Lebih lanjut dikatakan, DPC, DPRt dan seluruh kader siap memenangkan Jokowi-Maruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024.

SAPTO SATRIO MULYO - 8 - MAKNA BUDI PEKERTI

  1. Budi Pekerti adalah sebuah sistem didalam pikiran orang waras, yang dapat memberikan keseimbangan, dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat, karena budi pekerti berperan sebagai identitas dan budaya bangsa.
  2. Budi pekerti adalah tingkah laku, perangai, akhlak, dan watak. 
  3. Budi pekerti secara epistimologi, Budi berarti kesadaran, pengertian, pikiran, dan kecerdasan, sementara Pekerti bermakna penampilan, perilaku, yang dapat diartikan sebagai sebuah kesadaran seseorang dalam bertindak dan berperilaku.
  4. Budi pekerti merupakan sebuah sikap positif, juga didalamnya termasuk tindakan sopan santun, yang yang diperoleh dari kebiasaaan yang dilakukan sejak kecil.
  5. Budi pekerti adalah sebuah sikap yang akan terbentuk dalam benak setiap orang waras dengan sendirinya, melalui empatinya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat diartikan sebagai moral, etika, akhlak mulia, tata krama, dan sopan santun.
  6. Budi Pekerti merupakan ukuran moral yang baik atau buruk, hal ini tergantung pada nurani yang dimiliki oleh seseorang. Apakah dia waras atau tidak,,, 
  7. Budi Pekerti sepertinya sangat mirip dengan moral, tetapi berbeda dengan etika, karena pengertian etika adalah sebuah kebiasaan yang diterima oleh kelompok, organisasi, atau masyarakat tertentu. 
  8. Budi pekerti adalah sebuah nilai luhur yang diturunkan secara turun temurun, dari Leluhur Nenek Moyang Bangsa Indonesia.


Seseorang yang memiliki budi pekerti, akan memiliki moral yang baik, dan akan membentuk etika orang tersebut menjadi baik. Foto - Istimewa

Wisata ke Danau Situ Gede

Danau Situ Gede, juga disebut sebagai Danau Situ Ageng oleh masyarakat sekitar. Danau dengan luas 6 hektar, mempunyai kedalaman air hingga 6 meter. Di danau ini terdapat pulau kecil di tengahnya, dan juga terdapat makam Eyang Prabudilaya, tokoh penguasa yang melegenda bagi msyarkat Tasikmalaya. 

Danau ini dahulunya merupakan area penyimpanan air yang digunakan untuk mengairi sawah disekitaran. 

Udaranya yang sejuk membuat nyaman untuk mengunjunginya, selain itu, danau ini merupakan hutan penelitian yang di kelola oleh Badan Litbang Kehutanan milik Departemen Kehutanan.

Disini Anda dapat menikmati sejuknya udara danau dari prahu, sambil memnacing, dan berjalan di sekitar danau yang dikelilingi hutan yang rimbun. 

Menuju Danau Situ Gede
Bagi anda yang menggunakan kendaraan umum, dapat menaiki angkot 3 jurusan baranangsiang – bubulaak dari terminal baranangsiang. Setelah sampai di bubulauk, silahkan melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot 15 jurusan Situ Gede Bogor.

Bagi Anda yang menggunkan kendaraan pribadi, dapat mengikuti panduan dengan maps dengan koordinat yang dapat dicari di google maps.

Fasilitas Danau Situ Gede
Gazebo
Taman
Masjin
Parkir
Area Perkemahan
Toilet


Fasilitas - Istimewa

HASIL SURVEY PASANGAN RINDU UNGGUL, INI KATA RIDWAN KAMIL : "JANGAN LENGAH DI HARI H"

Ridwan Kamil saat ditemui di sela sela acara halal bihalal di kediaman Oesman Sapta, pada sabtu (16/6/2018)

Dramaga, (TerasDramaga) - Menurut beberapa lembaga survei menyatakan, elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum berada di urutan atas jelang Pilkada Jawa Barat 2018.

Di dalam Pilkada Jabar, pasangan nomor urur 1 tersebut melawan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, Hasanuddin-Anton Charliyan dan pasangan Sudrajat-Ahmat Syaikhu.

Meski elektabilitasnya berada di urutan atas, namun calon gubernur Jabar Ridwan Kamil menilai, potensi kemenangannya masih sangat tipis.

Walikota Bandung yang akrab disapa Kang Emil itu mengatakan, keberadaan saksi di tiap tempat pemungutan suara (TPS) menjadi salah satu faktor penting dalam memenangkan pilkada.

"Posisi survei sih posisinya menang, walaupun tipis. Sehingga kuncinya adalah amankan saksi jangan sampai posisi baik ini nanti tergerus karena kita kurang pengamanan di hari H (pemungutan dan penghitungan suara)," ujar kang Emil saat ditemui di sela-sela acara halalbihalal Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (16/6/2018).

Kang Emil mengungkapkan, timnya telah menyiapkan dan melatih saksi-saksi yang akan bertugas di tiap TPS.

Ia berharap, upaya yang dilakukan saat ini akan memberikan hasil yang maksimal saat Pilkada.

Pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018. Sedangkan rekapitulasi akan dilaksanakan pada 28 Juni 2018.

"Tinggal berdoa saja, sebagai manusia beragama kita berdoa saja agar ikhtiar ini membuahkan hasil. Tapi apapun hasilnya kita sangat iklas karena namanya takdir sudah ada yang mengatur,"  kata Cagub Jabar ini.

Sebelumnya, Hasil survei Litbang Kompas Mei 2018 menunjukkan elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul mencapai 40,4 persen.

Sedangkan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi 39,1 persen responden pemilih.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei Charta Politika Juni 2018, elektabilitas Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyani berada di urutan pertama dan kedua, menjelang Pilkada Jawa Barat 2018.

Elektabilitas Ridwan-UU sebesar 37,3 persen. Sementara pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi sebesar 34,5 persen. Sementara dua pasang lainnya berada di posisi ketiga dan keempat, menurut hasil survey. 
(Gatot DP) - depoKini.web.id

Menilik bedanya antara Politisi Negarawan dengan Politisi Politikus

Dramaga, (WartaDramagaMungkin Sobat akan bertanya? Apakah ada perbedaan, antara Politisi Politikus dengan Politisi Negarawan? Keduanya khan sama-sama Politisi.

Sepintas memang tidak ada bedanya, sama-sama ingin merebut kekuasaan...

Berjuang membangun Bangsa Indonesia, tidak harus melalui karir menjadi “Politisi Politikus”, yang jalannya, hanya melalui lembaga-lembaga politik yang sudah dikuasi oleh politisi-politisi yang mapan dan tetap berjuang demi kekuasaannya semata.

Seorang pencari kekuasaan (Politisi), seyogyanya mempunyai cita-cita, bahwa kekuasaan yang dicapainya kelak, menjadi alat untuk membangun Bangsa-nya sendiri, bukan bangsanya orang lain – seperti sekarang ini – Freeport contohnya.

Sementara Politisi Politikus yang ada saat ini, mereka hanya ingin mempertahankan eksistensinya dalam kelihaiannya mamanajemeni kondisi yang chaos. Ibarat orang sedang bermain selancar, jika gagal sampai di tepi, ia pun kembali terombang-ambing dalam kekacauan itu sendiri.

Kita tahu sekarang ini, Politisi Politikus hanya untuk gaya-gayaan, tidak mengena pada eksistensi peran yang seyogyanya diterapkan untuk Bangsa ini.

Oleh karenanya saya membedakan secara dikotomi, antara “Politisi Politikus” (Kucing yang jadi Politisi) dengan “Politisi Negarawan” (Anjing yang jadi Politisi)

Kondisi sekarang ini memang ibarat tembok besar yang ada didepan kita, hal ini mengingat Negara-negara Barat dan Negara-negara Timur Tengah yang sudah lebih solid, bekerja sama dengan penghianat-penghianat Bangsa ini, untuk mengombang-ambingkan ombak yang sedang dipakai selancar oleh Politisi Politikus WNI itu sendiri.

Politisi Politikus yang bermain selancar pun, dengan serta merta riang gembira, ketika jatuh dari “papan selancar-nya”, karena mereka tahu bahwa yang membuat ombak tersebut adalah teman-temannya sendiri. Begitulah seorang Politisi Politikus melihat dua kekuatan tersebut di atas, sebagai kawan.

Mengapa sebagai kawan, karena seorang penghianat melihat bangsanya sendiri adalah musuh utamanya.

Kiranya sudah cukup diskripsi tentang Politisi Politikus tersebut. Sekarang apa konkritnya ???

Tembok besar tidak dapat dilawan dengan kekuatan senjata jadul. Kini saatnya kita menggunakan kekuatan akar rumput. Kita punya budaya “Kearifan Lokal”, semua nilai-nilai lokal, tidak terlepas dari pola hidup, pola makan dan makanan yang dimakan, hingga hiburan yang akan kita nikmati.

Kekayaan kita yang berupa fisik, sudah lama dirampok. Sementara, kekayaan kita yang berupa non-fisik, seperti kebudayaan, sudah lama pula dilunturkan oleh kedua kekuatan tersebut di atas.

Jadilah Politisi Negarawan, berjuang tidak harus dari partai, atau jalur politik lainnya. Berikan pembelajaran bagi sekeliling kita, bahwa kita harus mempertahankan segala kekayaan Bangsa ini.

Bagaimana caranya?

Kita bisa belajar sendiri mengenai "Kearifan Lokal" Bangsa kita, bukan nilai-nilai Barat atau Timur Tengah yang dibungkus, seolah-seolah menjadi kebiasaan kita di masa sekarang ini.

Penulis :
Sapto Satrio Mulyo | Foto : Dok. Pribadi  | Sumber : d' Monitor
Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal

Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat

Dramaga yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram

Bogor Sehat (Sejahtera, Aman dan Tentram)




Artikel Baru

Artikel Lama